Rabu, 18 Juli 2012

Muntah pada Bayi


1.   Muntah dan Gumoh
Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering dijumpai dan dapat terjadi pada berbagai gangguan. Muntah dapat berupa penyakit ringan atau tidak berarti, tetapi dapat pula merupakan gejala penyakit yang berat.
Definisi muntah
Keluar kembali sebagian besar/semua isi lambung, lama setelah makanan masuk kelambung

Sifat muntah
Dari anamnesis saja sering sudah dapat diperkirakan diagnosisnya. Misalnya bayi baru lahir mengeluarkan cairan terus menerus dari mulutnya. Mungkin hal ini disebabkan  adanya obstuksi di esofagus. Muntah proyektil dapat terjadi stenosis pilorus. Muntah berwarna hijau kekuningan menandakan obstuksi di bawah ampula Vateri. Muntah yang timbul segera setelah bayi lahir dan menetap, mungkin disebabkan oleh tekanan intrakranial yang meninggi atau obstruksi usus.

Penyebab
a.    Dalam masa neonatus
Kelainan kongenital saluran cerna, paralisi palatum, atresia esofagus, kalasia, akalasia, iritasi pada lambung (mekonium, amnion, darah), mobile cardia, torsi gaster, teraroma pada gaster, stenosis pilorus, hipertofik, obstruksi dou denum, atresia atau stenosis lain, mega kolon kongenital (pebyakit hisprung), volvulus, ileus mekonium, makanan atau cara membri makan atau minum yang salah, infeksi akaut, hematemesis, insufisiensi adrenokortikal, tekanan intrakranial yang meninggi karena perdarahan, edema otak, hidrosefalus, dan lain-lain.
b.    Setelah masa neonatus
Pada masa ini sebab muntah makin banyak dan makin sulit didiagnosis
·         Faktor psiko genik
·         Faktor infeksi: apendisitis, peritonitis, divertikulitis, adenisis mesenterial, infeksi traktus urinarius akut, hepatitis.
·         Faktor lain: invaginasi, kelainan intrakranial, kelainan endokrin, epidemic vomiting, cyclic vomiting, intksikasi, refleks.
Komplikasi
a.    Kehilangan  cairan tubuh dan elekrolit, sehingga dapat timbul dehidrasi dan alkalosis
b.    Karena tidak dapat makan dan minum dapat terjadi ketosis
c.    Ketosis akan menyebabkan asidosis dan kemudian renjatan
d.    Bila muntah sering dan hebat, akan timbul ketegangan otot dinding perut, perdarahan konjungtiva, ruptura esofagus, infeksi mediastinum, aspirasi muntah dengan akibat aspirasi pneumonia dan atelektasis, jahitan dapat terlepas pada penderita pasca operasi dan timbul perdarahan.
Penanganan
a.    Bergantung pada penyebabnya (pengobatan kausal). Simtomatis dapat diberi anti-emitik yang dibagi dalam 4 golongan yaitu sedativum, derivat beladona, antihistaminikum dan fenotiazin (largatil, phenergan).
b.    Jangan diberi makanan yang merangsang
c.    Bila ada kelainan rujuk
d.    Perbaiki teknik menyusui
e.    Sendawakan bayi

Muntah Yang Harus Diwaspadai
Ada beberapa bentuk muntah pada bayi yang harus diwaspadai para ibu, yakni:
a.    Muntah sehabis diberi makan atau disusui bila muntahnya berwarna hijau tua.
Hal ini menunjukkan ada kelainan pada saluran pencernaan si bayi, yakni ada sumbatan di bawah usus halus. Warna hijau tua pada muntah merupakan cairan dari empedu yang keluar. Kadang kalau ada sumbatan, meskipun si bayi tidak makan, ia bisa muntah karena cairan empedu keluar dan enzim-enzim lain tak bisa lewat.
Ada dua macam sumbatan, yang penuh dan parsial (sebagian). Sumbatannya bisa di mana saja. Bisa di antara oserfagus dan lambung atau antara lambung dan usus. Karena ada sumbatan yang parsial, kadang kelainan ini tak bisa diketahui secara pasti penyebabnya sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Misalnya dengan rontgen atau USG dicari penyebabnya lalu dihilangkan. Bila perlu dilakukan operasi jika sumbatannya akibat tumor atau kelainan bawaan. Tapi kasus seperti ini jarang terjadi.
b.   Bentuk muntahannya menyemprot seperti air mancur.
Makan atau tidak makan, si bayi mengelurkan muntah yang menyemprot seperti air mancur. Ini harus segera diperiksakan ke dokter. Karena muntah yang demikian menunjukkan ada kelainan pada susunan saraf pusat di otak si bayi. Biasanya terjadi jika si bayi habis terjatuh.
c.    Muntah karena keracunan.
Misalnya, pengasuh tak mencuci tangannya dengan bersih sebelum membuatkan makanan bayi. Atau botol susunya tidak disterilkan. Hal ini selain menyebabkan keracunan, juga bisa membuat infeksi pada saluran pencernaan. Gejala awal keracunan adalah muntah-muntah yang lalu diikuti diare. Tapi kalau infeksi pada saluran pencernaan, diare lebih dulu yang terjadi. Baru setelah itu ada gangguan keseimbangan elektrolit yang menyebabkan muntah. Bentuk muntahnya sama, berupa cairan. Bayi harus diberi banyak cairan setiap kali habis muntah dan diare.
Dibanding diare, muntah lebih berbahaya. Karena muntah berarti tak ada cairan yang masuk, yang bisa menyebabkan kekurangan cairan atau dehidrasi. Tapi kalau diare dan si bayi masih mau minum, tak masalah sebetulnya, selama yang diminum dan dikeluarkan proporsinya sama.
Bayi yang mengalami dehidrasi dapat dilihat dari mulutnya yang mengering, mata cekung, hampir tak ada air mata, bila ditekan kulitnya tak kembali ke bentuk semula (tidak elastis sebagaimana kulit normal). Mungkin kalau bayi lebih mudah terlihat dari berat badannya. Kalau turun berarti ada tanda-tanda dehidrasi. Jika berat badan bayi turun lebih besar atau sama dengan 5-10 persen dari berat badannya, maka si bayi harus diinfus.
d.    Muntah darah.
Ada kemungkinan bayi muntah disertai darah. Jika hanya berupa bercak, berarti ada streching (luka di tenggorokan) akibat muntah. Jika muntahnya berwarna merah dan byor-byoran, bisa dicurigai ada pembuluh darah yang pecah. Jika darahnya berwarna hitam, berarti ada darah di lambung. "Kadang si bayi mimisan dan darahnya tertelan sampai ke lambung. Hal ini menimbulkan rasa tak enak, sehingga si bayi refleks untuk muntah.
Pemeriksaan ke dokter dilakukan tergantung pada jenis dan banyaknya darah. Pendarahan yang banyak sangat berbahaya karena menurunkan kadar hemoglobin sehingga bayi kekurangan cairan dalam pembuluh darah.
Membersihkan Muntah
Langsung bersihkan bekas muntah dengan lap basah atau kering agar tak sempat berkontak terlalu lama dengan kulit si bayi. Kalau tidak, kulit akan memerah atau terjadi iritasi, yang berarti harus dilakukan pengobatan khusus.

Gumoh
Definisi Gomuh (gumoh)
Keluar kembali susu setelah ditelan ketika atau beberapa saat setelah minum dalam jumlah sedikit. Gumoh berbeda dengan muntah
Gumoh dikategorikan normal, jika terjadinya beberapa saat setelah makan dan minum serta tidak diikuti gejala lain yang mencurigakan. Selama berat badan bayi meningkat sesuai standar kesehatan, tidak rewel, gumoh tidak bercampur darah dan tidak susah makan atau minum, maka gumoh tak perlu dipermasalahkan.
Gumoh terjadi karena ada udara di dalam lambung yang terdorong keluar kala makanan masuk ke dalam lambung bayi. Gumoh terjadi secara pasif atau terjadi secara spontan. Berbeda dari muntah, ketika isi perut keluar karena anak berusaha mengeluarkannya. Dalam kondisi normal, gumoh bisa dialami bayi antara 1 - 4 kali sehari.
Etiologi
Terlalu kekenyangan, posisi botol yang salah, terburu-buru. Penyebab terjadinya gumoh memang bisa bermacam-macam. Di antaranya adalah:
1.    Susu atau ASI yang diminum bayi melebihi kapasitas lambung, padahal di usia itu kapasitas lambung bayi masih sangat kecil.
2.    Terlalu aktif. Misalnya pada saat bayi menggeliat atau pada saat bayi terus menerus menangis.
3.    Klep penutup lambung belum berfungsi sempurna. Dari mulut, susu akan masuk ke saluran pencernaan atas, baru kemudian ke lambung. Nah, di antara kedua organ tersebut terdapat klep penutup lambung. Pada bayi, klep ini biasanya belum berfungsi sempurna. Akibatnya, kalau bayi dalam posisi yang salah susu akan keluar dari mulut.
Solusi
1.    Posisi menyusu bersudut 45 derajat. Posisi terlentang membentuk sudut 45 derajat antara badan, pinggang, dan tempat tidur bayi, terbukti membantu mengurangi aliran balik susu dari lambung ke kerongkongan.
2.    Sendawakan bayi segera setelah selesai makan dan minum. Gendong si kecil dalam posisi 45 derajat. Atau tidurkan terlentang dan ganjalan berupa bantalan atau tumpukan kain di punggungnya. Biarkan ia pada posisi tersebut selama mungkin (minimal 2 jam).
3.    Jangan langsung mengangkat bayi saat ia gumoh atau muntah. Seringkali karena khawatir, dan bermaksud untuk menghentikan gumoh, kita cenderung mengangkat anak dari posisi tidurnya. Padahal cara ini justru berbahaya, karena muntah atau gumoh bisa turun lagi, masuk ke paru, dan akhirnya malah mengganggu paru-paru.
4.    Biarkan saja jika bayi mengeluarkan gumoh dari hidungnya. Hal ini justru lebih baik daripada cairan kembali dihirup dan masuk ke dalam paru-paru karena bisa menyebabkan radang atau infeksi.
5.    Beri bayi minum sedikit demi sedikit, tapi sering. Selalu usahakan cairan yang masuk lebih banyak ketimbang cairan yang keluar supaya tidak terjadi dehidrasi.
Ciri-ciri
Gumoh
Muntah
Volume cairan/makanan yang dimuntahkan Sedikit (kurang lebih 10 cc). Berupa ASI yang sudha ditelan bayi. Banyak (lebih dari 10 cc) atau susu formula dan makanan (pada bayi berusia di atas 6 bulan).
Cara keluar
Mengalir biasa dari mulut. Tidak disertai kontraksi otot perut.
·      Menyembur (seperti disemprotkan dari dalam perut). Disertai kontraksi otot perut.
·      Kadangkala juga keluar melalui lubang hidung.
Umur bayi
Kebanyakan terjadi pada bayi berumur beberapa minggu 2-4 bulan atau 6 bulan, dan akan hilang dengan sendirinya. Tidak terjadi pada bayi baru lahir. Tapi bis aterjadi pad abayi berumur 2 bulan, dna dapat berlangsung sepanjang usia.
Arti
Proses alami dan wajar untuk mengeluarkan udara yang tertelan bayi saat minum ASI. Bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan atau ganggaun fungsi pad aorgan pencernaan bayi.
Penyebab
·         Bayi terlalu banyak minum ASI.
·         Saat bayi minum atau makan ada udara yang ikut tertelan.
·         Bayi gagal menelan, karena otot-otot penghubung mulut dan kerongkongan belum matang. Ini banyak terjadi pada bayi premature.
·      Ada kelaianan pad asistem pencernaan bayi, mislanya kelainan katup pemisah lambung dan usus 12 jari. Cairan muntah biasanya berwarna hijau.
·      Ada infeksi atau luka, misalnya infeksi tenggorokan, yang kadang-kadang dpaat memicu bayi muntah. cairan muntah biasanya disertai bercak darah.
Cara mengatasi
Disendawakan setelah bayi menyusu. Ditangani dokter sesuai penyebabnya.

2.   Oral Trush
Definisi
Radang pada mulut (bibir/lidah)

Etiologi
a.    Candida albicans
b.    Hygiene yang kurang

Penatalaksanaan
a.    Beri cukup nutrisi
b.    Beri air putih setelah diberi susu
c.    Jika ada luka bawa ke pelayanan kesehatan

3.   Daper’s Rash
Definisi
Warna merah pada pantat bayi sebagai raeksi kulit terhadap amoniak pada urine dan penyebaran bakteri dari faeses
Etiologi
a.    Kebersihan kulit yan kurang
b.    Jarang ganti popok setelah bayi BAK
c.    Diare
d.    Alergi
Penatalaksanaan
a.    Bersihkan bokong bayi dengan sabun
b.    Keringkan setiap kali terkena air
c.    Biarkan bokong bayi mendapat udara à bila perlu bayi jangan diberi popok
d.    Gunakan krim sesuai dengan jenis ruam yang timbul
e.    Gunakan preparat anti jamur topical ( jika karena jamur)