Jumat, 20 Juli 2012

Pengendalian Vektor DBD


POKOK BAHASAN 1
PENGERTIAN PENGENDALIAN VEKTOR

Pengendalian vektor adalah upaya menurunkan faktor risiko penularan oleh vektor dengan meminimalkan habitat potensial perkembangbiakan vektor, menurunkan kepadatan dan umur vektor untuk mengurangi kontak vektor dengan manusia atau memutus rantai penularan penyakit





POKOK BAHASAN 2

METODE  PENGENDALIAN VEKTOR


Metode pengendalian vektor DBD bersifat spesifik lokal, dengan mempertimbangkan faktor–faktor lingkungan fisik (cuaca/iklim, pemukiman, habitat perkembangbiakan); lingkungan sosial-budaya (Pengetahuan Sikap dan Perilaku) dan aspek vektor.

Pada dasarnya metode pengendalian vektor DBD yang paling efektif adalah dengan melibatkan peran serta masyarakat (PSM). Sehingga berbagai metode pengendalian vektor cara lain merupakan upaya pelengkap untuk secara cepat memutus rantai penularan.
Berbagai metode PengendalianVektor (PV) DBD, yaitu:
a.      Kimiawi
b.      Biologi
c.   Manajemen lingkungan
d.    Pemberantasan Sarang Nyamuk/PSN
e.    Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vector Management/IVM)

a. Kimiawi
Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan insektisida merupakan salah satu metode pengendalian yang lebih populer di masyarakat dibanding dengan cara pengendalian lain. Sasaran insektisida adalah stadium dewasa dan pra-dewasa. Karena insektisida adalah racun, maka penggunaannya harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran termasuk mamalia. Disamping itu penentuan jenis insektisida, dosis, dan metode aplikasi merupakan syarat yang penting untuk dipahami dalam kebijakan pengendalian vektor. Aplikasi insektisida yang berulang di satuan ekosistem akan menimbulkan terjadinya resistensi serangga sasaran.  

Golongan insektisida kimiawi untuk pengendalian DBD
§    Sasaran dewasa (nyamuk) adalah : Organophospat (Malathion, methyl pirimiphos), Pyrethroid (Cypermethrine, lamda-cyhalotrine, cyflutrine, Permethrine & S-Bioalethrine). Yang ditujukan untuk stadium dewasa yang diaplikasikan dengan cara pengabutan panas/Fogging dan pengabutan dingin/ULV
§    Sasaran pra dewasa (jentik) : Organophospat (Temephos).



b. Biologi
Pengendalian vektor biologi menggunakan agent biologi seperti : predator/pemangsa, parasit, bakteri, sebagai musuh alami stadium pra dewasa vektor DBD.
Jenis predator yang digunakan adalah Ikan pemakan jentik (cupang, tampalo, gabus, guppy, dll), sedangkan larva Capung, Toxoryncites, Mesocyclops dapat juga berperan sebagai predator walau bukan sebagai metode yang lazim untuk pengendalian vektor DBD
Parasit : Romanomermes iyengeri
Bakteri : Baccilus thuringiensis israelensis
Golongan insektisida biologi untuk pengendalian DBD (Insect Growth Regulator/IGR dan Bacillus Thuringiensis Israelensis/BTI ), ditujukan untuk stadium pra dewasa yang diaplikasikan kedalam habitat perkembangbiakan vektor.
Insect Growth Regulators (IGRs) mampu menghalangi pertumbuhan nyamuk di masa pra dewasa dengan cara merintangi/menghambat proses chitin synthesis selama masa jentik berganti kulit atau mengacaukan proses perubahan pupae dan nyamuk dewasa. IGRs memiliki tingkat racun yang sangat rendah terhadap mamalia (nilai LD50 untuk keracunan akut pada methoprene adalah 34.600 mg/kg ).
Bacillus thruringiensis (BTI) sebagai pembunuh jentik nyamuk/larvasida yang tidak menggangu lingkungan. BTI terbukti aman bagi manusia bila digunakan dalam air minum pada dosis normal. Keunggulan BTI adalah menghancurkan jentik nyamuk tanpa menyerang predator entomophagus dan spesies lain. Formula BTI cenderung secara cepat mengendap di dasar wadah, karena itu dianjurkan pemakaian yang berulang kali. Racunnya tidak tahan sinar dan rusak oleh sinar matahari.


c. Manajemen lingkungan
Lingkungan fisik seperti tipe pemukiman, sarana-prasarana penyediaan air, vegetasi dan musim sangat berpengaruh terhadap tersedianya habitat perkembangbiakan dan pertumbuhan vektor DBD. Nyamuk Aedes aegypti sebagai nyamuk pemukiman mempunyai habitat utama di kontainer buatan yang berada di daerah pemukiman. Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan sehingga tidak kondusif  sebagai habitat perkembangbiakan atau dikenal sebagai source reduction seperti 3M plus (menguras, menutup dan mengubur, dan plus: menyemprot, memelihara ikan predator, menabur larvasida dll); dan menghambat pertumbuhan vektor (menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengurangi tempat-tempat yang gelap dan lembab di lingkungan rumah dll)


d. Pemberantasan Sarang Nyamuk / PSN-DBD
Pengendalian Vektor DBD yang paling efisien dan efektif adalah dengan memutus rantai penularan melalui pemberantasan jentik. Pelaksanaannya di masyarakat dilakukan melalui upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) dalam bentuk kegiatan 3 M plus. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, kegiatan 3 M Plus ini harus dilakukan secara luas/serempak dan terus menerus/berkesinambungan. Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku yang sangat beragam sering menghambat suksesnya gerakan ini. Untuk itu sosialisasi kepada masyarakat/ individu untuk melakukan kegiatan ini secara rutin serta penguatan peran tokoh masyarakat untuk mau secara terus menerus menggerakkan masyarakat harus dilakukan melalui kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan di media masa, serta reward bagi yang berhasil melaksanakannya.

 PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DEMAM BERDARAH DENGUE (PSN DBD) 

1.  Tujuan
Mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, sehingga penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

2.  Sasaran
Semua tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD
a.  Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari
b.  Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari (non-TPA)
c.  Tempat penampungan air alamiah

3.  Ukuran keberhasilan
Keberhasilan kegiatan PSN DBD antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

4.   Cara PSN DBD

PSN DBD dilakukan dengan cara ‘3M-Plus’,  3M yang dimaksud yaitu:
  1. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi/wc, drum, dan lain-lain seminggu sekali (M1)
  2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, seperti gentong air/tempayan, dan lain-lain (M2)
  3. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan (M3). 

Selain itu ditambah (plus) dengan cara lainnya, seperti:
  1. Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat-tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali.
  2. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak
  3. Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon, dan lain-lain (dengan tanah, dan lain-lain)
  4. Menaburkan bubuk larvasida, misalnya di tempat-tempat yang sulit dikuras  atau di daerah yang sulit air
  5. Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak-bak penampungan air
  6. Memasang kawat kasa
  7. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar
  8. Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai
  9. Menggunakan kelambu
  10. Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk
  11. Cara-cara spesifik lainnya di masing-masing daerah.

Keseluruhan cara tersebut diatas dikenal dengan istilah dengan ’3M-Plus’.


5.   Pelaksanaan

a.   Di rumah
Dilaksanakan oleh anggota keluarga.

  1. Tempat tempat umum
Dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan atau pengelola tempat tempat umum.


e. Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vektor Management)
IVM merupakan konsep pengendalian vektor yang diusulkan oleh WHO untuk mengefektifkan berbagai kegiatan pemberantasan vektor oleh berbagai institusi. IVM dalam pengendalian vektor DBD saat ini lebih difokuskan pada peningkatan peran serta sektor lain melalui kegiatan Pokjanal DBD, Kegiatan PSN anak sekolah dll.




POKOK BAHASAN 3.
KEGIATAN PENGENDALIAN VEKTOR

Kegiatan Pengendalian Vektor memberikan beban yang berbeda disetiap level administratif

A.   Pusat
      Sesuai dengan Tupoksi Pusat, maka Kegiatan Pengendalian Vektor (PV) lebih diutamakan pada kegiatan penetapan kebijakan Pengendalian Vektor, Penyusunan standarisasi, modul juklak juknis, Monitoring dan evaluasi Pengendalian Vektor Nasional, serta Bimbingan teknis Pengendalian Vektor Nasional.

B.   Propinsi
      Di Tingkat Propinsi, kegiatan Pengendalian Vektor adalah : pelaksanaan kebijakan Nasional Pengendalian Vektor, merencanakan kebutuhan alat, bahan dan operasional PV, Monev PV, Bintek PV ke kabupaten.

C.  Kabupaten
      Otonomi daerah memberikan peran yang lebih luas kepada Kabupaten untuk secara aktif dan mandiri melakukan kegiatan PV di wilayahnya sesuai dengan kondisi spesifik lokal daerah. Untuk itu selain melaksanakan juklak/juknis dan pedoman, merupakan tugas kabupaten untuk merencanakan dan mengadakan alat, bahan operasional PV, Monev kegiatan PV DBD, Bintek  kegiatan PV DBD di Puskesmas.

D.  Puskesmas
      Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan bertugas menjaga kesinambungan kegiatan PV oleh masyarakat di wilayahnya, menggerakkan peran serta masyarakat melalui kader, tokoh masyarakat, serta melakukan kegiatan PV secara langsung di masyarakat.


Operasional Pengendalian Vektor
a. Pengabutan (fogging/ULV)
                Pelaksana               : Petugas dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas,
                                                 dan tenaga lain yang telah dilatih.
                Lokasi                      : Meliputi seluruh wilayah terjangkit
                Sasaran                   : Rumah dan tempat-tempat umum
                Insektisida               : Sesuai dengan dosis
               Alat                           : Mesin fog atau ULV
               Cara                         : Pengasapan/ULV dilaksanakan 2 siklus dengan interval
                                                 satu minggu (petunjuk fogging terlampir)


          b. Pemberantasan sarang jentik/nyamuk demam berdarah dengue
              (PSN DBD)
               Pelaksana                : Masyarakat  di lingkungan  masing-masing
               Lokasi                       : Meliputi seluruh  wilayah  terjangkit  dan  wilayah
                                                 sekitarnya  dan  merupakan  satu  kesatuan
                                                 epidemiologis
               Sasaran                    : Semua tempat potensial bagi perindukkan nyamuk:
                                                  tempat penampungan air,barang bekas ( botol aqua,
                                                  pecahan gelas,ban bekas, dll) lubang pohon/tiang
                                                  pagar/pelepah pisang, tempat minum burung, alas
                                                  pot, dispenser, tempat penampungan air di bawah
                                                  kulkas, dibelakang kulkas dsb, di rumah/bangunan
                                                  dan tempat umum.                        
               Cara                         : Melakukan kegiatan 3 M plus. (disesuaikan dengan
                                                  lokal spesifik daerah terjangkit).
                                                  Contoh:  . 
§  Untuk daerah sulit air  PSNnya tidak
      menguras,tetapi  larvasidasi, ikanisasi, dll).
§  Untuk daerah tandus tidak mengubur
      namun diamankan agar tidak menjadi
      tempat penampungan air.
§  Untuk daerah mudah mendapatkan air
            • menguras dengan sikat dan sabun .
§  PLUS:  membakar  obat  nyamuk,
            • menggunakan  repelen,   kelambu,
            • menanam  pohon sereh,  zodia, lavender,
            • geranium, pasang, obat nyamuk semprot,
            • pasang kasa dll.


c. Larvasidasi
                Pelaksana               : Tenaga dari masyarakat dengan bimbingan petugas
                                                 puskesmas/dinas kesehatan kabupaten/kota
                Lokasi                      : Meliputi seluruh wilayah terjangkit
                Sasaran                   : Tempat penampungan air (TPA) di rumah dan
                                                  tempat-tempat umum
                Insektisida               : Sesuai dengan dosis ( Dan disesuaikan dengan
                                                 sirkulasi pemakaian insektisida instruksi Dirjen PP &
                                                  PL, terlampir surat intruksi)
                Cara                        : Larvasidasi dilaksanakan diseluruh wilayah KLB
                                                   ( petunjuk larvasidasi terlampir).




POKOK BAHASAN 4
PENGENDALIAN VEKTOR PADA KLB DBD

Pada saat KLB, maka pengendalian vektor harus dilakukan secara cepat, tepat dan sesuai sasaran untuk mencegah peningkatan kasus dan meluasnya penularan.  Langkah yang dilakukan harus direncanakan berdasarkan data KLB, dengan tiga intervensi utama secara terpadu yaitu pengabutan dengan fogging/ULV, PSN dengan 3 M plus, larvasidasi  dan penyuluhan penggerakan masyarakat untuk meningkatkan peran serta.




POKOK BAHASAN 5
PELAPORAN PENGENDALIAN VEKTOR

Manfaat pelaporan untuk memantau kegiatan PV secara berjenjang dimulai dari  Puskemas, Kabupaten, Provinsi.
Pelaporan memuat  tentang :
  1. Data kasus, data vektor dan PE (Penyelidikan Epidemiologi)
  2. Metode PV yang digunakan termasuk jenis insektisida, dosis insektisida, cara aplikasi, alat yang digunakan serta sasaran aplikasi.
  3. Pemetaan dan cakupan atau luas area intervensi




POKOK BAHASAN 6
EVALUASI PENGENDALIAN VEKTOR

Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang tepat, maka perlu dilakukan survei pendahuluan untuk membandingkan dengan kondisi pasca intervensi.
Evaluasi terdiri dari :

A.          Efektifitas untuk menilai dampak keberhasilan kegiatan PV,  yang diukur dengan larva survey (survei jentik) menggunakan indikator Index Larva, yaitu: House Index (HI), Container Index (CI) dan Breateu Index (BI) serta Angka Bebas Jentik (ABJ). Survei Jentik ini lazimnya dikombinasi dengan survei PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku).

B.           Operasional :
a.    Bioassay, dengan menggunakan pengetesan dengan spesimen hidup pada saat penyemprotan dilakukan.
b.    Cakupan, dengan mengukur luas area dan atau jumlah rumah yang diintervensi.
c.    Dosis, dengan mengukur luas area atau jumlah rumah dengan dosis atau jumlah insektisida yang digunakan.




Langkah – langkah Pengendalian Vektor

  1. Perencanaan Pengendalian Vektor
    1. Analisis data kasus
    2. Penentuan daerah sasaran intervensi
    3. Pemilihan metoda PV disesuaikan dengan permasalahan dan kondisi setempat
    4. Perencanaan ketersediaan bahan, peralatan, SDM, dan biaya.
  2. Operasional Pengendalian Vektor
a.    Koordinasi dengan daerah sasaran
b.    Penyuluhan PV termasuk penggerakan Peran serta masyarakat
c.    Pengorganisian intervensi, termasuk  pembagian tugas.
d.    Implementasi Praktek kerja Lapangan


Upaya pemberantasan DBD hanya dapat berhasil apabila seluruh masyarakat berperan secara aktif  dalam PSN DBD. Gerakan PSN DBD merupakan bagian yang paling  penting dari keseluruhan upaya pemberantasan DBD oleh keluarga/masyarakat.

Pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa pemberantasan jentik melalui kegiatan PSN DBD dapat mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, sehingga penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

Bentuk pelaksanaan kegiatan PSN DBD disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah (local specific).

Pembinaan peran serta masyarakat dalam PSN DBD antara lain dapat  dikoordinasikan oleh POKJA DBD Kelurahan/Desa dan POKJANAL DBD Kecamatan, Kabupaten/Kota dan Propinsi.