Pengukuran Status Gizi


 Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain : umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak bawah kulit (Supariasa, 2001).
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi (Supariasa, 2001), walau ada sebagian yang tidak terpaut dengan umur dengan keuntungan dan kerugian masing-masing. Selain sebagai pembagi dalam beberapa ukuran antropometri, sebagaimana yang diingatkan oleh Waterlow (1984) pengetahuan tentang umur juga sangat berguna untuk membagi kelompok anak dalam menganalisis dan menafsir data antropometri (Satoto, 1990).
 
Berat badan (BB) merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir karena bisa mendiagnosis bayi lahir normal atau BBLR (Supariasa, 2001).Jellife (1966) menyebutkan bahwa ukuran berat badan merupakan kunci pengukuran antropometri. Walau demikian penggunaan berat badan untuk pengukuran antropometri gizi bukan tanpa masalah. Berat badan mengukur semua massa tubuh termasuk jaringan keras, otot dan jaringan lunak khususnya jaringan lemak, timbunan air, dan jaringan lain yang tidak normal di dalam tubuh. Ukuran berat badan ini menurut Johston dan Lampl (1984) dapat mengukur kehilangan jaringan lemak dan otot dalam keadaan gizi
kurang. Namun menurut Masrul (2005; 18) permasalahan pengukuran antropometri ini adalah berat badan sangat mudah dipengaruhi oleh keadaan yang mendadak, seperti terserang infeksi, diare dan konsumusi makanan yang menurun. Satoto (1990) mengatakan bahwa berat badan merupakan ukuran antropometri yang handal dalam pemantauan pertumbuhan. Ini dibuktikan dengan ditemukan hubungan positif bermakna antara komposit kenaikan berat badan dengan pertumbuhan anak umur 0-18 bulan dalam penelitian longitudinal di Kecamatan Mlonggo Jawa Tengah (1990). Penelitian Taha (1995) memperlihatkan dari
dua indikator yang digunakan untuk melihat pertumbuhan anak, yaitu pertambahan berat badan dan tinggi badan/panjang badan, dan ternyata hanya indikator berat badan yang bisa dianalisis karena ukuran panjang badan mempunyai realibilitas yang rendah (r=0,61) (Masrul 2005). Cara paling baik mengukur berat badan anak adalah dengan menggunakan timbangan tanpa per, baik timbangan duduk maupun timbangan gantung semacam dacin yang memiliki kepekaan 0,1 kg. Timbangan gantung dengan per semacam Salter memiliki
kemudahan cara pembacaan namun perlu peneraan berulang untuk menjamin ketepatan. Anak harus ditimbang dengan pakaian seminim mungkin untuk meningkatkan ketepatan hasil timbangan (Satoto, 1990).
Panjang badan atau tinggi badan merupakan ukuran antropometrik kedua. Karena dengan menghubungkan berat badan dan panjang atau tinggi badan, faktor umur dapat dikesampingkan (Supariasa, 2001 : 42). Panjang badan atau tinggi badan bersamasama berat badan merupakan pengukuran dasar antropometri gizi.
Akhir-akhir ini semakin disadari pentingnya tinggi badan, sebagaimana diungkapkan oleh Keller (1987), Heally et al (1987), serta Gopalan (1987) karena tinggi badan merupakan pertanda dari gangguan gizi kronis atau masa lalu (Satoto, 2001). Anak usia lebih dari 2 tahun sampai dewasa pengukuran tinggi badan dilakukan dengan posisi berdiri menggunakan alat mikrotoa (microtoise), sedangkan anak di bawah usia 2 tahun pengukuran panjang badan dilakukan dengan posisi tiduran dengan menggunakan papan pengukur panjang badan (Satoto,2002, Supariasa, 2001).